Satpol PP bersama aparatur Kecamatan Pontianak Selatan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas menertibkan lapak-lapak PKL dan jemuran warga di kawasan waterfront. (ISTIMEWA)

KALBARAYA, PONTIANAK – Wajah kawasan waterfront Pontianak tampak bersolek pada Jumat (3/4/2026) pagi. Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) bersama aparatur lintas wilayah menyisir ikon wisata kebanggaan Kota Khatulistiwa tersebut guna mengembalikan estetika dan fungsi ruang publik di sepanjang tepian Sungai Kapuas.

Aksi penataan ini melibatkan sinergi antara pihak Kecamatan Pontianak Selatan, Kelurahan Benua Melayu Laut (BML), hingga unsur TNI-Polri melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Sterilisasi Jalur Pedestrian dari PKL dan Jemuran Warga

Fokus utama penertiban kali ini menyasar lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kerap memakan badan jalan kayu (broadwalk), sehingga menghambat akses pejalan kaki. Petugas secara sigap menggeser meja dan peralatan dagang ke luar area pagar pembatas agar pandangan wisatawan ke arah sungai tetap terbuka luas.

Tak hanya lapak dagangan, petugas juga melakukan pendekatan persuasif kepada warga setempat terkait kebiasaan menjemur pakaian di pagar pengaman waterfront. Pemandangan jemuran warna-warni yang dinilai merusak visual kawasan wisata tersebut diminta untuk dipindahkan ke area privat rumah masing-masing.

“Kami ingin memastikan kawasan ini nyaman dan indah dipandang. Jangan sampai kesan estetikanya rusak oleh pemandangan jemuran di fasilitas publik saat wisatawan berkunjung,” ujar Kasat Pol PP Kota Pontianak, Ahmad Sudiyantoro, Jumat (3/4/2026).

Implementasi Program ‘Jumat ASRI’

Gerakan penataan ini bukan sekadar penegakan Perda Nomor 19 Tahun 2021, melainkan bagian dari kesuksesan program Jumat ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Program ini merupakan instruksi pemerintah pusat yang bertujuan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tertata dan manusiawi.

Camat Pontianak Selatan, Wulanda Anjaswari, menekankan bahwa waterfront adalah ruang interaksi sosial dan sarana olahraga warga yang harus dijaga bersama. Ia memastikan proses penataan dilakukan dengan cara-cara yang humanis.

“Kami mengedepankan edukasi dan pemahaman kepada warga serta pelaku usaha. Tujuannya agar aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun ketertiban dan aturan tetap dijunjung tinggi,” tutur Wulanda.

Edukasi Kolektif Menjaga Marwah Kota

Melalui keterlibatan tokoh masyarakat, Pemerintah Kota Pontianak berharap penataan ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif. Menjaga kerapian waterfront dipandang sebagai bentuk penghormatan warga terhadap identitas kotanya sendiri.

Kini, dengan area pedestrian yang lebih lapang dan bebas dari gangguan visual, waterfront Pontianak kembali menawarkan kenyamanan hakiki bagi pengunjung yang ingin menikmati eksotisme Sungai Kapuas tanpa sekat estetika.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *