KALBARAYA, PEKANBARU – Tabir di balik aksi kekerasan yang menimpa Farradhila Ayu Pramesti (23), mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suska Riau, mulai terkuak. Pelaku pembacokan, Reyhan Mufazar (22), diduga kuat melakukan aksi nekat tersebut lantaran terobsesi dan gagal menerima penolakan cinta dari korban.
Berdasarkan keterangan rekan satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) mereka, Daffa, benih-benih perasaan pelaku muncul saat keduanya menjalani program pengabdian masyarakat tersebut. Meski perkenalan awal berlangsung wajar, perbedaan persepsi dalam menanggapi keramahan korban menjadi pemicu keretakan hubungan mereka.
Sikap Ramah yang Disalahartikan
Daffa mengungkapkan bahwa korban dikenal sebagai sosok yang hangat dan sangat perhatian kepada rekan sejawatnya. Namun, sikap ramah tersebut justru disalahartikan oleh pelaku yang memiliki kepribadian cenderung tertutup.
“Korban memang tipenya peduli, sering mengingatkan teman untuk makan saat berkumpul. Mungkin karena pelaku sosok yang introvert dan jarang berinteraksi dekat dengan lawan jenis, ia jadi terbawa perasaan atau baper,” ujar Daffa, Jumat (27/2/2026).
Penolakan dan Upaya Pembatasan Komunikasi
Farradhila dilaporkan telah berulang kali memberikan ketegasan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekadar pertemanan. Korban juga telah mengonfirmasi bahwa dirinya sudah memiliki kekasih, namun Reyhan seolah enggan menerima kenyataan tersebut.
Karena merasa tidak nyaman dengan pendekatan yang agresif, korban sempat membatasi akses komunikasi hingga memblokir kontak pelaku. Namun, tindakan tersebut justru memicu perilaku obsesif dari Reyhan.
- Aksi Nekat: Pelaku diketahui pernah menyambangi kediaman korban secara tiba-tiba tanpa undangan.
- Terus Menghindar: Memasuki semester delapan, korban secara konsisten meminta pelaku untuk tidak mengganggunya lagi.
Serangan Terencana Saat Ujian Seminar Proposal
Puncak dari obsesi sepihak ini terjadi pada Kamis (26/2/2026) pagi, tepat saat korban bersiap mengikuti ujian seminar proposal di kampus. Penolakan yang terus-menerus diduga membuat pelaku gelap mata dan menyiapkan senjata tajam berupa kapak serta parang.
Dalam insiden berdarah tersebut, pelaku melayangkan serangan menggunakan kapak sebanyak tiga kali. Akibatnya, korban menderita luka serius di bagian tangan dan kepala. Beruntung, petugas keamanan kampus sigap memberikan pertolongan pertama sebelum melarikan korban ke rumah sakit.
Saat ini, kepolisian tengah mendalami unsur perencanaan dalam kasus ini, mengingat senjata tajam telah disiapkan pelaku sebelum menemui korban di area kampus.