KALBARAYA, PUTUSSIBAU – Dampak musim kemarau mulai memicu krisis bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kota Putussibau dan sekitarnya, Kabupaten Kapuas Hulu. Kelangkaan pasokan membuat harga Pertalite eceran di tingkat pedagang melambung tinggi dari harga normal Rp 13.000 menjadi Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per liter.
Antrean mengular di SPBU lokal membuat sebagian besar masyarakat terpaksa beralih ke kios eceran. Kendati harga melonjak drastis, stok eceran tetap diburu warga karena BBM menjadi kebutuhan vital untuk mobilitas harian dan aktivitas pekerjaan.
“Suka tidak suka tetap harus beli karena kendaraan dipakai untuk bekerja. Saya dapat harga Rp 20 ribu per liter, bahkan teman saya ada yang beli sampai Rp 25 ribu per liter,” keluh Rahma, warga Putussibau, Rabu (19/8/2026).
Warga lainnya, Andi, mengaku enggan menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU sehingga terpaksa membeliKemarau Memicu Kelangkaan BBM di Putussibau, Harga Eceran Tembus Rp25 Ribu
Dampak musim kemarau kini mulai memukul mobilitas warga Kota Putussibau dan sekitarnya. Terhambatnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi memicu lonjakan harga drastis di tingkat pengecer, di mana Pertalite yang biasanya dijual normal kini melambung hingga Rp20.000–Rp25.000 per liter.
Habisnya stok BBM di SPBU membuat kios-kios eceran disbu warga. Meski harga dipatok jauh di atas standar, BBM eceran tetap laris manis karena tinggi kebutuhan harian masyarakat.
Rahma, seorang warga Putussibau, mengaku pasrah membeli Pertalite eceran seharga Rp20.000 hingga Rp25.000 per liter demi menunjang pekerjaan harian. Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata agar pasokan dan harga kembali normal.
Keluhan senada disampaikan Andi. Ia memilih membeli di kios eceran untuk menghindari antrean SPBU yang mengular hingga berjam-jam. Namun, ia menyayangkan harga eceran yang dinilai tak rasional dan meminta pemerintah menertibkan pedagang yang memanfaatkan situasi.
Menanggapi krisis ini, Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan menjelaskan bahwa kelangkaan dipicu oleh surutnya aliran Sungai Kapuas. Kondisi tersebut menyebabkan kapal ponton pengangkut BBM Pertamina rute Pontianak–Sintang tidak dapat berlayar, sehingga pengiriman dialihkan penuh ke jalur darat.
Pengalihan moda transportasi ini berdampak pada durasi distribusi. Jalur suplai dari Sintang ke Kapuas Hulu yang biasanya memakan waktu satu hari kini membengkak menjadi dua hingga tiga hari perjalanan.
Bupati yang akrab disapa Bupati Sis tersebut mengimbau para pedagang dan distributor untuk menjaga empati serta tidak mencari keuntungan berlebihan di tengah kesulitan masyarakat. Ia menegaskan siap berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan penimbunan BBM.