KALBARAYA, BEKASI – Insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan taksi Green SM, KRL Commuter Line, dan KA Argo Bromo Anggrek mengguncang kawasan Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Kecelakaan fatal ini dipicu oleh mogoknya sebuah armada taksi di perlintasan sebidang Jalan Ampera yang mengakibatkan gangguan jadwal perjalanan hingga berujung pada tabrakan antarkereta.
Detik-Detik Taksi Green SM Terseret KRL
Peristiwa bermula saat satu unit taksi Green SM melaju dari arah timur menuju barat. Saat berada di tengah rel perlintasan Jalan Ampera, kendaraan tersebut tiba-tiba mengalami mati mesin secara mendadak.
Saman (55), seorang saksi mata di lokasi kejadian, menuturkan bahwa warga yang berjaga sempat berupaya membantu mendorong mobil, namun gagal karena posisi kereta sudah terlalu dekat.
“Mobil mati mendadak dan tidak bisa dihidupkan kembali. Penjaga rel sudah berteriak menyuruh sopir keluar. Upaya mendorong mobil tidak membuahkan hasil karena kereta keburu datang,” ujar Saman.
Akibatnya, KRL relasi Cikarang-Angke menghantam taksi tersebut hingga terseret sejauh 100 meter. Beruntung, sopir taksi berhasil menyelamatkan diri sebelum benturan terjadi. Meski sopir dinyatakan selamat, kondisi armada mengalami kerusakan parah pada bagian bodi, kaca, dan roda.
Tabrakan Susulan di Stasiun Bekasi Timur
Dampak dari kecelakaan taksi tersebut memicu efek domino. KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang terpaksa berhenti darurat di Stasiun Bekasi Timur untuk menunggu jalur dibersihkan.
Nahas, saat tengah berhenti, rangkaian KRL tersebut dihantam dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi. Insiden kedua ini dilaporkan menimbulkan sejumlah korban luka di kalangan penumpang KRL.
Status Perlintasan Ilegal di Jalan Ampera
Investigasi di lapangan menunjukkan bahwa lokasi awal kecelakaan, yakni perlintasan Jalan Ampera, bukanlah perlintasan resmi di bawah pengawasan PT KAI. Jalur tersebut selama ini hanya dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Fadli, warga sekitar, menyebutkan bahwa penjagaan warga biasanya sangat ketat. Namun, dalam kasus ini, kegagalan sistem pada mobil menjadi penyebab utama. “Ini penjagaan paling aman sebenarnya. Masalahnya mesin mobilnya error dan tertahan di tengah rel, sudah diusahakan didorong tapi tidak bergeser,” jelasnya.
Respons Manajemen Green SM
Pihak Green SM Indonesia secara resmi menyatakan keprihatinan mendalam atas keterlibatan armada mereka dalam insiden berdarah ini. Melalui pernyataan di akun media sosial resminya, mereka menegaskan komitmen untuk bekerja sama dengan pihak kepolisian.
“Kami menaruh perhatian penuh atas insiden di dekat Stasiun Bekasi Timur ini. Green SM telah memberikan informasi relevan kepada otoritas terkait dan mendukung penuh proses investigasi,” tulis pernyataan resmi manajemen Green SM, Senin (27/4).
Perusahaan transportasi tersebut berjanji akan terus memperbarui informasi seiring dengan hasil verifikasi lapangan dan penyelidikan dari pihak berwenang.
