Plt Sekjen Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco

KALBARAYA, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) tengah melakukan evaluasi serius terhadap keberlangsungan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri. Langkah ini diambil guna mengatasi tingginya angka ketidaksesuaian (mismatch) antara profil lulusan dengan permintaan pasar tenaga kerja.

Plt Sekjen Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa dominasi prodi ilmu sosial yang mencapai 60 persen dari total statistik pendidikan tinggi menjadi salah satu pemicu surplus lulusan di bidang tertentu.

Surplus Lulusan Keguruan: 470 Ribu Orang Berisiko Tersisih

Dalam agenda Simposium Kependudukan 2026, Badri menyoroti fenomena kelebihan pasokan lulusan pada bidang kependidikan. Menurut data kementerian, setiap tahunnya Indonesia mencetak sekitar 490 ribu lulusan keguruan, sementara serapan pasar hanya berkisar di angka 20 ribu posisi.

“Artinya, ada potensi 470 ribu lulusan yang tersisih dan menjadi pengangguran terdidik. Hal ini memerlukan kebijakan bersama untuk memilah, memilih, dan jika perlu, menutup prodi yang tidak lagi kompatibel dengan pertumbuhan ekonomi,” ujar Badri, dikutip Senin (27/4/2026).

Kritik Strategi “Market Driven” dan Ancaman Oversupply Dokter

Kemendikti menyayangkan kecenderungan perguruan tinggi yang menggunakan strategi market driven—yakni hanya membuka prodi berdasarkan tren pasar sesaat—yang justru memicu penumpukan lulusan di sektor serupa.

Badri bahkan memberikan peringatan terkait proyeksi ketersediaan tenaga medis. “Jika pola ini dibiarkan, pada tahun 2028 kita berpotensi mengalami surplus dokter melebihi standar minimal Bank Dunia, ditambah lagi dengan masalah distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata di daerah,” tambahnya.

Transformasi Menuju “Market Driving” dan Industri Strategis

Sebagai solusi, pemerintah mendorong pergeseran paradigma ke strategi market driving. Fokus pengembangan ke depan akan diarahkan pada pembukaan prodi yang menopang delapan industri strategis nasional.

Langkah-langkah yang tengah digagas antara lain:

  • Penutupan Prodi: Mengeksekusi penutupan program studi yang memiliki tingkat pengangguran tinggi.
  • Program Interdisipliner: Mendorong skema major-minor. Contohnya, mahasiswa teknik (Engineering) yang mengambil peminatan manajemen, atau mahasiswa kedokteran yang mendalami manajemen rantai pasok alat kesehatan.
  • Link and Match: Menyelaraskan kurikulum pendidikan tinggi dengan visi Indonesia Emas 2045 sesuai UU No. 59 Tahun 2024.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *