Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana (Isal Mawardi/detikcom) Baca artikel detiknews, "Dadan Hindayana Dilantik Jadi Kepala Badan Gizi Nasional, Ini Sosoknya" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-7497093/dadan-hindayana-dilantik-jadi-kepala-badan-gizi-nasional-ini-sosoknya. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

KALBARAYA, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tidak hanya diposisikan sebagai pemenuhan nutrisi nasional, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk menstabilkan harga pangan di Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam Sidang Kabinet Paripurna bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin lalu.

Dadan menjelaskan bahwa kapasitas beli yang besar melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memungkinkan pemerintah melakukan intervensi pasar saat terjadi fluktuasi harga, baik di masa inflasi maupun deflasi.

Fleksibilitas Menu sebagai Pengendali Pasar Sistem pengendalian harga ini dilakukan melalui penyesuaian bahan baku pada dapur-dapur MBG. BGN memiliki wewenang untuk menginstruksikan SPPG beralih ke komoditas alternatif guna menyeimbangkan permintaan dan penawaran di pasar terbuka.

“Apabila permintaan terhadap telur atau ayam melonjak terlalu tinggi, kami bisa mengarahkan SPPG untuk mengonsumsi sumber protein lain. Misalnya, menggalakkan penggunaan ikan pada bulan-bulan tertentu sebagai substitusi,” ungkap Dadan dalam laporannya.

Sebaliknya, saat terjadi panen melimpah yang menyebabkan harga jatuh (oversupply), program MBG berperan sebagai penyerap hasil tani. Dadan mencontohkan penggunaan kentang dalam menu mingguan saat komoditas tersebut mengalami penurunan harga drastis. Langkah ini memastikan stok petani terserap dan harga di tingkat produsen tetap terjaga.

Daya Serap Skala Besar SPPG Kekuatan ekonomi dari program ini terletak pada volume kebutuhan bahan bakunya yang luar biasa. Untuk satu siklus produksi di tiap unit SPPG, kebutuhan pangan tercatat meliputi:

  • Beras: Mencapai 200 kilogram.
  • Sayur-mayur: Sekitar 350 kilogram.
  • Buah-buahan: Hingga 150 sisir pisang (ekuivalen dengan hasil dari 15 pohon).
  • Protein Perikanan: Mampu menyerap sedikitnya 3.000 ekor lele atau setara dengan hasil dua kolam budidaya.

Melihat besarnya daya serap ini, Dadan mengimbau pemerintah daerah untuk segera berkoordinasi dengan BGN jika ditemukan bahan pangan yang tidak terserap pasar atau mengalami tekanan harga. “Informasikan kepada kami agar SPPG bisa melakukan pembelian secara masif guna menstabilkan harga di daerah tersebut,” tambahnya.

Gairah Baru bagi Petani Muda Dampak dari skema pembelian yang terpusat dan konsisten ini mulai dirasakan di sektor hulu. Dadan menyebutkan bahwa kepastian pasar dari program MBG telah mendorong motivasi petani muda di berbagai wilayah untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka. Kehadiran negara sebagai pembeli tetap diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan ekonomi di tingkat pedesaan.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *