Foto: Reuters

KALBARAYA, WASHINGTON D.C. – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menginstruksikan serangan militer besar-besaran terhadap kelompok ISIS di Suriah. Langkah ini merupakan respons langsung atas insiden berdarah di Palmyra yang menewaskan dua tentara dan satu warga sipil AS pada Sabtu (13/12) lalu.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa pasukan militer Amerika telah memulai misi bertajuk “Operasi Hawkeye Strike” sejak Jumat (19/12).

“Pasukan AS meluncurkan Operasi Hawkeye Strike di Suriah untuk melenyapkan personel, infrastruktur, dan gudang senjata ISIS. Ini adalah jawaban atas serangan terhadap personel kami di Palmyra,” tulis Hegseth melalui platform X, sebagaimana dikutip dari AFP, Sabtu (20/12/2025).

Trump: Pembalasan yang Sangat Serius Melalui platform Truth Social, Presiden Donald Trump meluapkan kemarahannya atas gugurnya warga negara AS tersebut. Ia menyebut para korban sebagai “Patriot Amerika yang hebat” dan bersumpah akan memberikan balasan yang setimpal.

“Ini adalah serangan ISIS terhadap AS dan Suriah di wilayah yang sangat berbahaya. Akan ada pembalasan yang sangat serius!” tegas Trump. Ia juga menambahkan bahwa Presiden Suriah, Ahmed Al Sharaa, merasa sangat terganggu dengan aksi teror tersebut.

Sinergi Keamanan di Kawasan Konfik Meskipun AS melakukan serangan udara secara mandiri, Kementerian Luar Negeri Suriah menyatakan komitmennya dalam memerangi sisa-sisa sel ISIS. Pihak Damaskus menegaskan tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi kelompok teroris tersebut untuk berlindung di wilayah Suriah.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperjelas bahwa operasi ini bukan bertujuan untuk memicu perang baru berskala besar, melainkan tindakan defensif dan balasan strategis guna memastikan keamanan personel Amerika di luar negeri.

Latar Belakang: Ancaman Sel Tidur ISIS Sejarah mencatat bahwa ISIS sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah pada 2014 sebelum akhirnya dinyatakan kalah secara teritorial pada 2019. Namun, para pejuang kelompok tersebut dilaporkan masih aktif bergerak di kawasan gurun yang sulit dijangkau, melakukan serangan gerilya terhadap pos-pos militer maupun warga sipil.

Insiden di Palmyra yang menewaskan dua tentara dan seorang penerjemah sipil ini menjadi pengingat bahwa ancaman sel tidur ISIS di kawasan tersebut masih sangat nyata.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *