KALBARAYA, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada periode Juli 2026 berada dalam kondisi stabil di angka US$454,8 miliar (setara Rp8.041,77 triliun dengan asumsi kurs Rp17.680 per dolar AS). Angka ini relatif stagnan jika dibandingkan dengan posisi Juni 2026 yang tercatat sebesar US$454,5 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa secara tahunan (year-on-year/yoy), ULN Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 4,9%. Dinamika tersebut didorong oleh peningkatan kewajiban pada sektor publik di saat utang sektor swasta justru mengalami penurunan.

Utang Sektor Publik Terjaga Positif

Posisi ULN pemerintah pada Juli 2026 tercatat sebesar US$218,4 miliar (sekitar Rp3.861 triliun), tumbuh 3,2% (yoy). Kenaikan ini dipicu oleh tingginya aliran modal masuk (inflow) pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang menandakan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas ekonomi nasional masih sangat kuat.

Pemerintah terus berkomitmen menerapkan tata kelola yang fleksibel, terukur, dan pruden, termasuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok serta bunga tepat waktu. Penarikan ULN dialokasikan untuk menopang APBN dan membiayai sektor-sektor produktif, antara lain:

 Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial: 22,0%

 Administrasi Pemerintah, Pertahanan, & Jaminan Sosial Wajib: 20,7%

 Jasa Pendidikan: 16,2%

 Konstruksi: 11,5%

 Transportasi & Pergudangan: 8,5%

Pihak otoritas moneter menekankan bahwa profil risiko utang pemerintah sangat aman lantaran mayoritas berupa pinjaman jangka panjang.

ULN Swasta Mengalami Kontraksi

Berbanding terbalik dengan sektor publik, ULN swasta pada Juli 2026 menyusut hingga US$194,5 miliar atau terkontraksi 1,2% (yoy). Penurunan ini dipengaruhi oleh merosotnya penarikan utang dari entitas bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) sebesar 1,4% (yoy) dan lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 0,3% (yoy).

Sektor-sektor penyumbang dominan ULN swasta meliputi Industri Pengolahan, Jasa Keuangan & Asuransi, Pengadaan Listrik & Gas, serta Pertambangan & Penggalian—yang secara akumulatif mencakup 80,6% dari total portofolio swasta.

Rasio dan Kondisi Kesehatan Utang

Bank Indonesia memastikan struktur ULN nasional tetap dalam kondisi sehat berkat penerapan prinsip kehati-hatian. Indikator ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terjaga di level 30,7%, dengan struktur yang didominasi oleh instrumen jangka panjang. BI bersama pemerintah berkomitmen terus memperkuat sinergi pemantauan demi meminimalkan potensi risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *