Istimewa

KALBARAYA, PONTIANAK – Peta kekuatan sepak bola Kalimantan Barat resmi bergeser. Persiwah Mempawah berhasil keluar sebagai kampiun Liga 4 Kalbar setelah menumbangkan PS Kubu Raya dengan skor meyakinkan 2-0 dalam laga final yang berlangsung di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman (SSA), Minggu (8/2/2026) sore.

Kemenangan tim berjuluk Laskar Bestari ini sekaligus mengakhiri dominasi panjang Gabsis Sambas yang selama beberapa tahun terakhir menjadi kekuatan tunggal di kancah sepak bola daerah.

Pesta Sepak Bola Rakyat di SSA

Stadion SSA tampak membara dengan kehadiran ribuan suporter yang memadati tribun utama hingga sektor kiri dan kanan. Atmosfer pertandingan terasa sangat emosional dengan nyanyian dukungan yang terus menggema sepanjang 90 menit laga berjalan.

Seorang pengamat sepak bola lokal, Feri, menilai antusiasme luar biasa ini merupakan sinyal kerinduan masyarakat akan kompetisi berkualitas. “Stadion yang penuh menjadi bukti nyata bahwa publik Kalbar sangat haus akan tontonan sepak bola. Sekarang kita melihat lahirnya poros kekuatan baru di luar Sambas,” tuturnya.

Pertandingan sendiri berjalan dalam tempo tinggi. Meski kedua tim tampil agresif dan saling menekan, Persiwah terbukti lebih klinis dalam memanfaatkan peluang di lini depan untuk mengunci kemenangan dua gol tanpa balas.

Dahaga Kompetisi dan Harapan Regenerasi

Senada dengan Feri, Wawan yang merupakan penonton di lokasi, menyoroti membludaknya jumlah suporter sebagai cerminan dahaga masyarakat terhadap turnamen skala provinsi. Ia berharap jadwal kompetisi di masa mendatang bisa lebih tertata dan rutin digelar.

“Kami butuh panggung seperti ini lebih sering. Selain sebagai hiburan rakyat, kompetisi yang rutin adalah kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda lokal agar bisa menembus level nasional,” kata Wawan.

Infrastruktur Masih Jadi “PR” Besar

Di balik kemeriahan juara, kualitas sarana olahraga masih menjadi catatan kritis bagi para penikmat sepak bola di Kalbar. Stadion SSA yang menjadi venue partai puncak dinilai masih jauh dari standar profesional, terutama pada aspek kualitas rumput.

“Cukup miris melihat kondisi lapangan yang kurang terawat. Jika pemerintah ingin sepak bola Kalbar bangkit dan menembus Liga 1, infrastruktur harus menjadi prioritas. Lapangan yang gersang dan berdebu tentu menghambat performa terbaik pemain,” pungkas Wawan dengan nada kritik.

Kebangkitan Persiwah Mempawah diharapkan menjadi momentum bagi para pemangku kebijakan untuk mulai melirik potensi besar sepak bola daerah, baik dari sisi prestasi maupun perbaikan fasilitas penunjang.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *