Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie, Kadis Kesehatan dan KB H Hardin, dan Kadis pendidikan dan kebudayaan H Asmadi di RS Sa'adah, Jumat (6/2). (HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST)

KALBARAYA, SINGKAWANG – Sebanyak 56 siswa MAN Model Singkawang dilaporkan mengalami gejala keracunan massal setelah mengonsumsi paket makan siang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (6/2/2026). Insiden ini memaksa sedikitnya 31 pelajar harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit dan klinik untuk mendapatkan perawatan medis intensif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gejala mulai dirasakan para siswa pada Kamis (5/2) sekitar pukul 12.30 WIB, sesaat setelah menyantap hidangan yang disuplai oleh Dapur MBG kawasan Bukit Batu, Singkawang Tengah.

Gejala Seragam dan Sebaran Perawatan Korban

Dari total 906 siswa di sekolah tersebut, puluhan di antaranya mengeluhkan pusing, mual, sakit perut hebat, hingga muntah-muntah. Para orang tua yang khawatir langsung membawa anak-anak mereka ke berbagai fasilitas kesehatan di Kota Singkawang, termasuk RS Sa’adah, RS Abdul Aziz, RS Vincent, RS Harapan Bersama, serta beberapa klinik terdekat.

“Kondisi setiap anak berbeda-beda tergantung imunitasnya. Ada yang cukup rawat jalan, namun banyak juga yang harus menjalani rawat inap karena kondisinya sangat lemas,” lapor tim medis di lapangan.

Respons Cepat Pemerintah Kota Singkawang

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, bersama Kepala Dinas Kesehatan dan KB, Hardin, serta Kadis Pendidikan, Asmadi, langsung melakukan peninjauan ke RS Sa’adah untuk memastikan kondisi para pelajar. Di rumah sakit tersebut, tercatat enam siswa masih menjalani rawat inap dengan kondisi yang mulai stabil.

“Kami telah mengecek langsung para korban. Gejalanya serupa, mulai dari pusing hingga mual. Kami berharap proses pemulihan berjalan cepat agar mereka bisa kembali beraktivitas,” ujar Tjhai Chui Mie usai menjenguk pasien.

Evaluasi Total Standar Higienitas MBG

Wali Kota menegaskan bahwa ini adalah insiden pertama sejak program MBG digulirkan di Singkawang. Ia memberikan peringatan keras kepada pengelola dapur dan petugas MBG agar menjadikan peristiwa ini sebagai evaluasi serius.

“Ini harus menjadi kejadian pertama dan terakhir. Saya meminta pelayanan dan standar higienitas makanan ditingkatkan secara drastis. Makanan yang disajikan harus benar-benar bersih dan bermanfaat, bukan justru mencelakai siswa,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu orang tua siswa yang berjaga di rumah sakit menuturkan bahwa anaknya berangkat sekolah dalam keadaan sehat. Namun, setelah jam makan siang, sang anak mendadak lemas dan mengeluh kesakitan hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan pengujian sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti kontaminasi.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *