Putri dari Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid yakni Yenny Wahid saat haul ke-16 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (17/12/2025) malam

KALBARAYA, JAKARTA – Peringatan Haul ke-16 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur kembali digelar di Ciganjur, Jakarta. Momentum ini bukan sekadar seremoni mengenang wafatnya sang kiai, melainkan menjadi ruang refleksi kolektif untuk menghidupkan kembali “Kompas Moral” bangsa yang diletakkan oleh Bapak Kemanusiaan tersebut.

Di tengah dinamika sosial yang masih diwarnai riak diskriminasi dan ketimpangan, pesan Gus Dur mengenai politik yang berbasis martabat manusia terasa kian relevan. Bagi Gus Dur, politik bukanlah sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk membela mereka yang terpinggirkan.

BACA JUGA : Viral Gerai Roti Tolak Uang Tunai, BI: Dilarang Keras Tolak Rupiah!

Aksi Nyata: Dari Teori ke Logistik Bencana Esensi kemanusiaan Gus Dur tidak berhenti pada meja diskusi. Hal ini dibuktikan dalam rangkaian Haul tahun ini melalui penggalangan donasi bagi warga terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Melalui jaringan relawan GUSDURian, bantuan difokuskan pada penyediaan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih dan logistik darurat. Langkah ini mempertegas pesan bahwa keberpihakan pada kaum lemah harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan paling konkret, bukan sekadar jargon politik.

Warisan Kebijakan yang Mendobrak Sekat Sejarah mencatat keberanian Gus Dur dalam meruntuhkan tembok diskriminasi saat menjabat sebagai Presiden ke-4 RI. Beberapa langkah transformatifnya meliputi:

  • Pemulihan Hak Sipil: Mencabut larangan perayaan Imlek dan mengakui Konghucu sebagai agama resmi.
  • Kemerdekaan Ekspresi: Membubarkan Departemen Penerangan pada 1999 untuk membuka kran kebebasan pers setelah dekade pembatasan.
  • Pendekatan Humanis di Papua: Mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, membuka ruang dialog melalui Kongres Rakyat Papua (KRP) II, hingga pembebasan tahanan politik melalui Keppres 173/1999.

Bagi Gus Dur, stabilitas politik tidak boleh ditebus dengan pembungkaman identitas atau penindasan hak asasi.

Merawat Keberanian Moral Menjaga warisan Gus Dur berarti mempraktikkan keberanian moral untuk berdiri tegak melawan ketidakadilan, meskipun harus berhadapan dengan arus mayoritas. Warisan ini menuntut konsistensi—bahwa kemanusiaan bukanlah agenda musiman, melainkan komitmen jangka panjang.

Gus Dur tidak mewariskan rumus politik yang rumit; ia hanya mewariskan ajaran sederhana bahwa membela manusia adalah bentuk ibadah yang paling jujur. Selama keberanian untuk membela yang lemah tanpa pamrih masih dirawat, semangat Gus Dur tidak akan pernah benar-benar pergi.

Sesuai jargon ikoniknya, “Gitu saja kok repot”, Gus Dur mengingatkan kita bahwa menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan politik seharusnya menjadi hal yang lumrah dan tanpa beban, demi menjaga kewarasan bangsa di tengah situasi yang sering kali kehilangan akal sehat.

By DYL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *