Foto: @ChrisMinnsMP via X via REUTER/@ChrisMinnsMP via X

KALBARAYA, SYDNEY – Di tengah tragedi penembakan massal yang mengguncang Pantai Bondi, Sydney, sebuah kisah keberanian luar biasa muncul dari Ahmed al Ahmed, seorang pemilik toko buah berusia 43 tahun. Ahmed, yang mempertaruhkan nyawanya untuk merebut senjata dari salah satu pelaku, kini menjalani pemulihan di rumah sakit setelah melalui prosedur operasi akibat luka tembak di tangan dan lengan.

Sepupu Ahmed, Mustafa, mengonfirmasi kepada media lokal bahwa kondisi Ahmed stabil. “Dia adalah pahlawan sejati, 100 persen pahlawan,” ungkap Mustafa, menceritakan aksi Ahmed yang bersembunyi di balik mobil dan menyerang pelaku dari belakang untuk menjatuhkan senjata. Keberanian Ahmed tanpa diragukan telah mencegah jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak dalam insiden yang menewaskan 15 orang tersebut.

Penghormatan dari Pemimpin Dunia Aksi heroik Ahmed langsung menuai pujian global. Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, mengunjungi Ahmed di rumah sakit dan membagikan foto kunjungannya di media sosial. Minns memuji keberanian luar biasa Ahmed yang melucuti senjata teroris dengan risiko besar.

“Tidak diragukan lagi, lebih banyak nyawa akan hilang jika bukan karena keberanian Ahmed,” tulis Minns. Penghormatan serupa juga datang dari luar negeri, termasuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut Ahmed sebagai “sosok yang sangat, sangat berani.”

Solidaritas dan Pahlawan Lain Solidaritas publik mengalir deras dalam bentuk kampanye penggalangan dana via GoFundMe yang berhasil mengumpulkan lebih dari 200.000 Dolar Australia, termasuk donasi besar dari miliarder Bill Ackman.

Tindakan heroik di hari nahas itu ternyata tidak dilakukan sendirian. Sekelompok penjaga pantai (lifeguards) yang sedang tidak bertugas juga bertindak cepat. Menurut Steven Pearce dari Surf Life Saving New South Wales, tim tersebut berlari menerobos area tembakan untuk mengevakuasi anak-anak yang terjebak di taman bermain.

Penjaga pantai lainnya juga menggunakan papan selancar sebagai tandu darurat untuk mengangkut korban pendarahan melintasi pantai, bahkan melakukan CPR di lokasi kejadian. “Kami menggunakan setiap perban yang ada di klub-klub selancar. Tim benar-benar kehabisan segalanya,” kata Pearce, menggambarkan situasi darurat yang mencekam.

Identitas Pelaku Dikonfirmasi Pada Senin (15/12), Kepolisian Australia mengonfirmasi bahwa penembakan massal terburuk dalam hampir 30 tahun terakhir di negara itu dilakukan oleh ayah dan anak, Naveed Akram (24) dan Sajid Akram (50). Sajid Akram dilaporkan tewas di lokasi setelah ditembak oleh petugas kepolisian.

By APZ APZ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *