KALBARAYA, SOFIA – Stabilitas politik di Bulgaria kembali terguncang setelah Perdana Menteri Rosen Jeliazkov secara resmi mengumumkan pengunduran diri pemerintahannya pada Kamis (12/12). Keputusan dramatis ini diambil setelah berminggu-minggu berbagai kota besar di negara Balkan tersebut dikepung oleh aksi protes besar-besaran yang menuntut transparansi dan akuntabilitas kepemimpinan.
Mundurnya kabinet Jeliazkov terjadi tepat sebelum mereka menghadapi mosi tidak percaya keenam sejak mulai menjabat pada Januari 2025. Meski secara angka koalisi pemerintah masih memegang mayoritas di Majelis Nasional, PM Jeliazkov menegaskan bahwa legitimasi pemerintah bukan sekadar soal angka di parlemen, melainkan suara rakyat.
BACA JUGA : PM Australia Kecam Aksi Teror di Bondi Saat Perayaan Hanukkah
“Keputusan Majelis Nasional hanya bermakna jika mencerminkan kehendak rakyat. Kami mendengar energi sipil dari berbagai lapisan masyarakat yang menuntut perubahan, dan kami menghormati suara itu,” ujar Jeliazkov seperti dikutip dari Politico.
Pasca pengunduran diri ini, Presiden Rumen Radev dijadwalkan akan memulai mandat pembentukan pemerintahan baru. Jika proses ini menemui jalan buntu, Bulgaria terancam kembali mengadakan pemilihan cepat—yang kedelapan kalinya sejak krisis anti-korupsi pecah pada tahun 2020.